Minggu, 06 Juni 2010

Penjinak Monster (Oleh: Irfan Aulia, Psikolog AJI Pusat)

Di Palembang, saat mengisi sesi awal parenting aktivasi otak tengah, seorang ibu bercerita mengenai dua anaknya yang hari ini ikut pelatihan aktivasi otak tengah. salah satu dari kedua anak itu bernama dhiya, diantara sekian banyak cerita ibu tersebut adalah bagaimana anaknya begitu menikmati bermain psp. Sebuah alat permainan rumah sejenis dengan dulu pada zaman saya playstation, atau sega. Nah kalau sudah bermain di rumah, pokoknya semua hal lupa, asyik sekali dengan permainan itu.
Waktu itu kita sedang membahas bahwa anak paska aktivasi dari pengamatan kami akan lebih tinggi kemampuannya dalam menyerap informasi, sehingga setiap orang tua perlu memperhatikan dengan seksama informasi apa yang masuk ke dalam otak anak. Nah bunda dhiya pun bercerita mengenai keasyikan anaknya bermain psp, sambil bertanya bagaimana menyikapinya. Lalu penulis pun menjawab bu, sebaiknya ibu memberikan kegiatan pengganti seperti berolahraga bareng dengan ayah dan bunda. Misalnya bisa berolah raga naik sepeda keliling atau berjalan kaki bersama ayah bunda. Penulis lalu menceritakan pengalaman penulis waktu kecil, berjalan – jalan bersama ayah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini menjadikan penulis waktu kecil tersalurkan energinya melalui aktivitas olahraga yang menyehatkan badan dan pikiran. Penulis menceritakan kepada bunda dhiya bahwa anak membutuhkan saluran untuk menyalurkan energi yang ia miliki, bila ia tidak mendapatkannya lewat kegiatan yang lain maka ia lebih memilih bermain video game untuk menyalurkan energinya. Mengapa? Karena video game kalau kita cermati dengan kacamata komunikasi otak membuat semua saluran indra anak bekerja misalnya mereka mendapatkan pemuas indra visual dengan kecanggihan grafik visual, mereka mendapatkan pemuas indra auditori dengan kecanggihan suara, dan mereka mendapatkan pemuas kinestetik dengan kecanggihan skenario yang diberikan oleh video game. Video game yang sekarang dijual sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga banyak yang menyajikan skenario yang menantang pemainnya.
Nah kalau kita ingin membuat anak menikmati sesuatu yang lebih positif maka kita harus memberikan alternative kegiatan yang dapat memuaskan seluruh indra anak sehingga anak dapat terpuaskan. Untuk itu kita bisa menyusun kegiatan seperti berenang dan olahraga yang dikemas dengan apik untuk dapat memuaskan anak.naek kereta api tut..tut2
Kemudian di hari kedua, ayah bunda dhiya bercerita, bahwa sepulang pelatihan aktivasi otak tengah , dhiya sangat senang bahkan gembira melewati hari itu. Hal ini tentu memuaskan ayah bunda dhiya. Hal lain yang membuat bunda dhiya senang adalah anaknya mudah untuk bangun sholat subuh. Jadi ketika bangun pagi yang biasanya lebih susah bangun, pagi ini dhiya mudah sekali untuk bangun dan ketika diantar bunda untuk ke masjid sholat bersama ayah, dhiya pun menurut. Hanya saja saat mau masuk pelatihan aktivasi otak tengah hari kedua, dhiya malas dan tidak mau berangkat. Dhiya mau main psp. Bunda dhiya pun gak kalah akal, ia bercerita ke dhiya sayang kalau gak ikut, kan sekarang hari terakhir, dhiya bisa senang –senang dengan teman –teman sekaligus perpisahan. Dhiya masih malas untuk ikut, hingga bunda dhiya pun terpaksa mendorong dhiya untuk ikut pelatihan aktivasi otak tengah di hari kedua. Makanya ketika pagi hari kedua, bunda dhiya bertemu penulis, beliau langsung bercerita tentang kejadian dhiya pagi ini. Penulis pun khusyuk mendengarkan cerita dhiya.
Di dalam kelas penulis melihat dhiya nampak asyik bermain bersama tim trainer. Saat sesi menari, dhiya pun asyik berjoget, saat sesi yang lain pun, dhiya antusias mengikutinya. Nah di satu kesempatan penulis bertanya kepada dhiya,”dhiya punya hobi apa?”, “main psp”,jawab dhiya. “Main apa?”, balas saya.  “Main penjinak monster”. Dari jawaban dhiya, penulis jadi punya jawaban oh permainan ini lah yang menarik hati dhiya sehingga begitu khusyuk dan asyik main video game. Nah penulis pun mencoba untuk menggunakan apa yang dhiya suka untuk membangun keakraban dengan dhiya. Jadi di sesi berikutnya, penulis mengatakan pada dhiya, “hei penjinak monster”. Mendengar sapaan seperti ini dhiya tersenyum dan tersipu bangga. Melihat dhiya tersenyum dan tersipu bangga, penulis jadi ingat mengenai satu kelas pelatihan terapi yang pernah penulis ikuti mengenai satu aturan menarik  “Accepted”, ya, betul, arti kata ini adalah penerimaan. Di kelas itu fasilitator kelas seringkali menekankan pentingnya kita menerima klien apa adanya dan menemukan keunikan tersebut sekaligus menjadikan keunikan itu sebagai sumber daya bagi klien untuk mencapai tujuan dan perubahan yang lebih baik. Nah ketika bertemu dhiya, saya jadi ingat bahwa dhiya bisa begitu asyik bermain psp tentu karena dia menemukan “dunia”nya didalam permainan itu. Artinya dhiya bukan sekedar memainkan karakter dalam video game, tetapi mungkin merasa menjadi karakter yang sedang bermain tersebut. Sehingga wajar bila bunda dhiya menjadi sulit untuk mengalihkan perhatian dhiya saat dhiya sedang asyik bermain video game.
Nah dari pengalaman ini penulis mendapatkan berpikir, setelah penulis pulang ke Jakarta, bahwa alih-alih sebagai orang tua kita pusing menghadapi anak yang keasyikan main video game, justru lebih baik orang tua memanfaatkan hal itu sebagai cara untuk berinteraksi dan mengarahkan anak. Sebagai contoh pada kasus dhiya, setelah kita gali apa sih yang membuat dhiya asyik bermain video game dan kita temukan dhiya merasa asyik bermain penjinak monster. Maka ayah bunda dhiya bisa memakai sapaan ini kepada dhiya, “hei penjinak monster”. Nah saat sapaan ini disampaikan kepada dhiya, ayah bunda sudah membangun kesan baik. Kesan baik inilah yang bisa dipakai ayah bunda untuk menanamkan atau bahkan mengajak dhiya melakukan aktivitas lain yang lebih punya efek positif. Misalnya ayah bunda bisa mengatakan “yuk penjinak monster hari ini kita berkeliling naik sepeda, menemukan tantangan baru di luar”. Nah saat ayah bunda berkeliling naik sepeda bersama dhiya, tentu saja hal itu dapat dimanfaatkan untuk lebih akrab dengan dhiya dan menggali apa sih kemauan, minat, bakat, dan kecenderungan anak. Jadi saat anak meningkat keterampilan dan kemampuannya paska aktivasi otak tengah, tentu saja orang tua juga harus mengimbangi dengan terus meningkatkan kapasitas diri
Source : Irfan Aulia- psikolog AJI

Melihat dengan indera lain (AOT Angkatan I AJI Palembang)

Aktifnya otak tengah akan memudahkan anak memiliki akses yang baik ke otak kiri dan kanannya. Anak-anak usia 5-13 tahun akan mampu belajar membaca dan menghapal benda-benda dengan kecepatan tinggi, meningkatkan daya ingat, dan optimalisasi indra. Hal ini dipelajari dalam simulasi aktivasi otak tengah yang diselenggarakan Anak Jenius Indonesia (AJI) di Meeting Hall Rumah Makan (RM) Sri Melayu, kemarin (30/5).
      Drs Ridwan, salah satu owner AJI di Palembang mengatakan simulasi ini untuk meningkatkan kepekaan anak terhadap informasi dan mampu meresponnya dengan baik. Contohnya, adalah kemampuan anak untuk melihat sesuatu benda dengan mata tertutup.  
      “Dengan mata tertutup, anak-anak dapat mewarnai gambar tanpa keluar garis, bisa membaca dan mengenali huruf, melihat warna dengan bantuan kulit, penciuman dan pendengaran. Bahkan bisa mengendarai sepeda dengan mata tertutup,”ujar Ridwan didampingi owner lainnya, Ikbal.
      Tentu saja, kemampuan ini didapat dengan latihan mengoptimalkan aktivasi otak tengah. Medianya menggunakan teknologi komputer, gelombang audio, pendekatan dan motivasi. “Manfaat aktivasi otak tengah ini adalah bisa meningkatkan konsentrasi, daya ingat, kreativitas, emosi bisa terkendali dan kemapuan belajar meningkat,”tukasnya.
      Ustaz H Yuswar Hidayatullah, salah satu peserta, berharap simulasi ini dapat meningkatkan konsentrasi belajar anaknya. “Saya lihat, simulasi ini dengan pancaindra lain, supaya anak saya Abduh (13), kelas 1 SMP bisa lebih fokus lagi dalam belajar,”ujar anggota Komisi III DPRD Provinsi Sumsel dari PKS ini.(mg41)

Otak Tengah Fenomena Karunia Allah yg patut disyukuri (Oleh: Febriansyah, Trainer AOT AJI)

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya menjadi trainer aktivasi otak tengah dari Anak Jenius Indonesia (AJI).....


Otak kita merupakan satu nikmat dari sekian banyak nikmat pemberian Allah yg sangat luar biasa utk dsyukuri. menurut Head Strong, Tonny Buzan setidaknya otak kita memiliki 1.000.000.000.000 neuron yg berjarak dengan satu sarafnya 10,08 Km yang kalau diurai panjangnya mencapai jumlah atom se-Jagad raya (Subhanallahu...) karenanya riset semakin membuktikan bahwa kreatifitas dan ingatan manusia adalah tanpa batas. Rogger Sperry mengatakan, "Otak manusia terdiri dari dua belahan otak kiri dan otak kanan yang fungsinya berbeda.". Otak kiri lebih dominan menekankan kata-kata, logika, angka, matematika, dan urutan sedang otak tengah menekankan rasa, seni, musik, gambar, imajinasi,dll. sebagain besar kita hanya mengetahui bahwa hanya ada otak kiri dan otak kanan, padahal komposisi anatomi otak tidaklah sesederhana itu.


berdasarkan research ilmiah ada penemuan terbaru, yaitu tentang Otak Tengah (mid brain) atau bagian tengah otak, yang terdiri dari bagian corpuss callosum, atas cerebellum, tepatnya medulla & pons sebagai pangkal batang otak dan sebagian thalamus yang menjadi penghubung/jembatan (Golden Bridge) antara otak kiri dan otak kanan. pada prinsipnya kerja otak tengah ini adalah menyeimbangkan antara fungsi otak kiri dan otak kanan. Sebenarnya semenjak kita lahir otak tengah ini sudah dlm kondisi aktif (switch on) beberapa fenomena faktanya: seorang bayi yg belum mampu melihat dg baik atau bahkan matanya masih tertutup rapat dapat mengenali mana ibunya dg tepat hnya dengan indera penciuman (hidung) dan peraba (kulit), karenanya wajar ketika bayi menangis dan ibunya masuk ke kamar bayi tsb diam atau ketika digendone dg orang lain dia akan tetap menangis tetapi ketika ibunya yg menggendong ia merasakan kulit ibunya dan diam, ada juga fenomena orang yg tidur bisa berjalan ke dapur hanya utk minum atau ke toilet utk BAK masih dlm kondisi mata tertutup (mungkin dulu kita pernah melakukannya) dan kemudian kembali lagi ke kamar tidur itu juga salah satu fenomena kerja otak tengah dengan mengoptimalkan fungsi indera yg lain selain mata.


sayangnya, sistem pendidikan kita sampai tahun 90-an masih menitikberatkan pada kkerja otak kiri saja, baru diakhir tahun 90-an orang mulai ramai membicarakan tentang otak kanan. itu semua yg membuat otak tengah kita tertidur karena tidak di fungsikan oleh sebagian besar orang. itulah juga yg menjadi dasar penamaan proses dengan istilah aktivasi atau pengaktifan kembali. tidak bisa dipungkiri mata adalah panca indera yg lebih dominan kita gunakan dbanding yg lain. contoh: kita tau rasa makanan pedas hanya dari melihat warnanya yang merah (fungsi lidah sbg indera perasa diambil alih oleh mata dg penglihatan) atau ketika kita minum jamu mencium baunya kita sudah tahu kalo rasanya pahit (fungsi lidah diambil alih oleh hidung) kesimpulannya, sesungguhnya kita bisa mengganti kerja panca indera kita dengan cara melatih meminimalisir indera dominan, yaitu mata dan melatih kepekaan indera yg lain dengan penciuman, pendengaran, perasa, peraba.


nah, kaitannya dgn otak tengah adalah. karena otak tengah sebagai jembatan penghubung antara otak kiri dan otak kanan dapat menyeimbangkan fungsi dari keduanya, selain itu aktivasi otak tengah ini merangsang pertumbuhan sel serabut saraf (tinggal dmana serabut itu tumbuh disekitar indera kita sehingga menjadi optimal), proses mengaktifkan sensor inderawi, memperbesar dan memperlancar penerimaan (receiving) data ke otak. proses aktivasi dengan menggunakan teknologi komputer yg teruji ilmiah, pendekatan NLP dan motivasi dengan pancaran gelombang audio sound sesuai dg frekuensinya.


manfaat dari aktivasi otak tengah ini adalah peningkatan daya ingat, konsentrasi belajar, kreatifitas bertambah, membantu kerja kinestetik, keseimbangan hormonal, kestabilan emosi, membantu anak yang lemah dan hiperaktif, anak menjadi lebih rileks, rasa kepekaan semakin kuat, tanda hasil dari aktivasi otak tengah adalah "blind fold reading". beberapa blind fold reading: bisa melihat dengan mata tertutup, mewarnai, menggambar, menebak warna, gambar, angka, mengenali gelombang tubuh, bersepeda dg mata tertutup, membaca,dll. sebagian besar indikator ini memang menunjukkan cara meminimalisir peran indera dominan (mata) dan mengoptimalkan indera yg lain.


sampai saat ini baru ditemukan formulasi aktivasi otak tengah untuk anak-anak bersusia antara 5-14 tahun (ideal). pertanyaannya apakah orang dewasa tidak bisa? bisa saja tapi sedikit sulit dan rumit karena sudah banyak data dan informasi yang masuk keotaknya melalui kiriman panca indera. buktinya sebagian besar Trainer Aktivasi Otak tengah Anak Jenius indonesia (AOT AJI) pusat/ jakarta bisa teraktivasi, beberapa trainer AOT AJI di cabang daerah sluruh indonesia ada yg teraktivasi bahkan untuk Trainer AOT AJI Cab. Palembang saya salah satu trainer yang teraktivasi dengan blind fold indicator. awalnya ketika menjadi trainer utama pd AOT AJI angkatan pertama kemarin saya merasa gelisah ada sesuatu yg akan melukai anak2 ketika sedang ikut latihan, setelah mondar-mandir di ruangan akhirnya saya menemukan sebuah paku payung dlm kondisi terbuka keatas kejadian ini sama persis dengan Bu Marte (Master Trainer AJI Pusat) yg mendapati seorang anak membawa alat reccording di dalam sakunya ketika mengikuti Training AOT angkatan ke-3 di Jakarta (ternyata anak itu disuruh orang tuanya utk menduplikasi teknik dan gelombang soun yg dgunakan AJI karena ortunya jg salah satu pemilik lembaga aktivasi otak tengah)...Wallahua'lam bisshowab....kemarin jg sempat saya diskusikan dengan trainer AJI pusat yg mendampingi di palembang setelah di coba ulang, saya bisa memisahkan bola sesuai warnanya dengan mata tertutup (Indera saya yg lbh optimal adalah penciuman dan pendengaran dengan mengenali gelombang warna dan bentuk benda itu).


semoga visi mulia AJI "ikut mencerdaskan anak bangsa" bisa berjalan lancar. sekali lagi saya tekankan bahwa yang paling penting adalah manfaat dari aktivasi otak tengah ini bukan blind fold indicatornya karena itu semua adalah indikator saja yg membuktikan bahwa otak tengah kita sudah aktif (panca indera menjadi lebih peka) dan sesungguhnya itu adalah bukti bahwa otak kita ini adalah alat yang sangat luar biasa, lebih canggih dari prosessor komputer modern saat ini. dan itu semua adalah KARUNIA ALLAH swt YANG PATUT KITA SYUKURI...


Wallahua'lam bisshowab


Salam Anak Jenius


* Penulis adalah Trainer Utama Aktivasi Otak Tengah utk AJI Palembang