Di Palembang, saat mengisi sesi awal parenting aktivasi otak tengah, seorang ibu bercerita mengenai dua anaknya yang hari ini ikut pelatihan aktivasi otak tengah. salah satu dari kedua anak itu bernama dhiya, diantara sekian banyak cerita ibu tersebut adalah bagaimana anaknya begitu menikmati bermain psp. Sebuah alat permainan rumah sejenis dengan dulu pada zaman saya playstation, atau sega. Nah kalau sudah bermain di rumah, pokoknya semua hal lupa, asyik sekali dengan permainan itu.
Waktu itu kita sedang membahas bahwa anak paska aktivasi dari pengamatan kami akan lebih tinggi kemampuannya dalam menyerap informasi, sehingga setiap orang tua perlu memperhatikan dengan seksama informasi apa yang masuk ke dalam otak anak. Nah bunda dhiya pun bercerita mengenai keasyikan anaknya bermain psp, sambil bertanya bagaimana menyikapinya. Lalu penulis pun menjawab bu, sebaiknya ibu memberikan kegiatan pengganti seperti berolahraga bareng dengan ayah dan bunda. Misalnya bisa berolah raga naik sepeda keliling atau berjalan kaki bersama ayah bunda. Penulis lalu menceritakan pengalaman penulis waktu kecil, berjalan – jalan bersama ayah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini menjadikan penulis waktu kecil tersalurkan energinya melalui aktivitas olahraga yang menyehatkan badan dan pikiran. Penulis menceritakan kepada bunda dhiya bahwa anak membutuhkan saluran untuk menyalurkan energi yang ia miliki, bila ia tidak mendapatkannya lewat kegiatan yang lain maka ia lebih memilih bermain video game untuk menyalurkan energinya. Mengapa? Karena video game kalau kita cermati dengan kacamata komunikasi otak membuat semua saluran indra anak bekerja misalnya mereka mendapatkan pemuas indra visual dengan kecanggihan grafik visual, mereka mendapatkan pemuas indra auditori dengan kecanggihan suara, dan mereka mendapatkan pemuas kinestetik dengan kecanggihan skenario yang diberikan oleh video game. Video game yang sekarang dijual sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga banyak yang menyajikan skenario yang menantang pemainnya.
Nah kalau kita ingin membuat anak menikmati sesuatu yang lebih positif maka kita harus memberikan alternative kegiatan yang dapat memuaskan seluruh indra anak sehingga anak dapat terpuaskan. Untuk itu kita bisa menyusun kegiatan seperti berenang dan olahraga yang dikemas dengan apik untuk dapat memuaskan anak.
Kemudian di hari kedua, ayah bunda dhiya bercerita, bahwa sepulang pelatihan aktivasi otak tengah , dhiya sangat senang bahkan gembira melewati hari itu. Hal ini tentu memuaskan ayah bunda dhiya. Hal lain yang membuat bunda dhiya senang adalah anaknya mudah untuk bangun sholat subuh. Jadi ketika bangun pagi yang biasanya lebih susah bangun, pagi ini dhiya mudah sekali untuk bangun dan ketika diantar bunda untuk ke masjid sholat bersama ayah, dhiya pun menurut. Hanya saja saat mau masuk pelatihan aktivasi otak tengah hari kedua, dhiya malas dan tidak mau berangkat. Dhiya mau main psp. Bunda dhiya pun gak kalah akal, ia bercerita ke dhiya sayang kalau gak ikut, kan sekarang hari terakhir, dhiya bisa senang –senang dengan teman –teman sekaligus perpisahan. Dhiya masih malas untuk ikut, hingga bunda dhiya pun terpaksa mendorong dhiya untuk ikut pelatihan aktivasi otak tengah di hari kedua. Makanya ketika pagi hari kedua, bunda dhiya bertemu penulis, beliau langsung bercerita tentang kejadian dhiya pagi ini. Penulis pun khusyuk mendengarkan cerita dhiya.
Di dalam kelas penulis melihat dhiya nampak asyik bermain bersama tim trainer. Saat sesi menari, dhiya pun asyik berjoget, saat sesi yang lain pun, dhiya antusias mengikutinya. Nah di satu kesempatan penulis bertanya kepada dhiya,”dhiya punya hobi apa?”, “main psp”,jawab dhiya. “Main apa?”, balas saya. “Main penjinak monster”. Dari jawaban dhiya, penulis jadi punya jawaban oh permainan ini lah yang menarik hati dhiya sehingga begitu khusyuk dan asyik main video game. Nah penulis pun mencoba untuk menggunakan apa yang dhiya suka untuk membangun keakraban dengan dhiya. Jadi di sesi berikutnya, penulis mengatakan pada dhiya, “hei penjinak monster”. Mendengar sapaan seperti ini dhiya tersenyum dan tersipu bangga. Melihat dhiya tersenyum dan tersipu bangga, penulis jadi ingat mengenai satu kelas pelatihan terapi yang pernah penulis ikuti mengenai satu aturan menarik “Accepted”, ya, betul, arti kata ini adalah penerimaan. Di kelas itu fasilitator kelas seringkali menekankan pentingnya kita menerima klien apa adanya dan menemukan keunikan tersebut sekaligus menjadikan keunikan itu sebagai sumber daya bagi klien untuk mencapai tujuan dan perubahan yang lebih baik. Nah ketika bertemu dhiya, saya jadi ingat bahwa dhiya bisa begitu asyik bermain psp tentu karena dia menemukan “dunia”nya didalam permainan itu. Artinya dhiya bukan sekedar memainkan karakter dalam video game, tetapi mungkin merasa menjadi karakter yang sedang bermain tersebut. Sehingga wajar bila bunda dhiya menjadi sulit untuk mengalihkan perhatian dhiya saat dhiya sedang asyik bermain video game.
